rss

produk

NComputing System »
1 Komputer untuk banyak pemakai/Clien. Pemakai Client tidak memerlukan PC, hanya Monitor, Keyboard, mouse. Biaya lebih murah, mudah perawatan dan hemat energi dengan sistem Ncomputing. Dapat di pergunakan untuk : - Lab Komputer untuk sekolah - Pembuatan Warnet dan - Networking untuk kantor

Saturday, February 6, 2010

Tersebut seorang Raja yang sangat kaya dan berkuasa. Pada suatu hari Sang Raja berjalan-jalan ke pasar untuk melihat keadaan rakyatnya. Dalam perjalanannya sang raja bertemu dengan seorang pengemis. Maka sang raja bertanya kepada sang pengemis.

"Apa yang dapat aku bantu untukmu membuat bahagia, wahai pengemis?, tanya sang raja. pengemis tersenyum dan berkata : "Apakah Raja benar-benar akan memenuhi semua keinginan hamba?"

"Tentu saja", jawab sang raja. "Aku adalah seorang raja yang sangat kaya dan berkuasa, apa yang engkau inginkan, pasti aku akan mengabulkannya".
Pengemis segera mengulurkan mangkok sedekahnya kepada sang raja dan berkata, "Sudikah Raja memenuhi mangkok ini". Sang raja terdiam, ia lalu menyuruh bendahara kerajaan untuk mengambil pundi-pundi emas kerajaan. Dalam hati sang raja ia akan mampu memenuhi mangkuk sang pengemis, apalagi membawa 1 pundi emas yang ukurannya lebih besar dari mangkuk pengemis itu. Lalu sang raja menuangkan 1 pundi emas ke dalam mangkuk pengemis itu, namun yang terjadi mangkuk itu tetap tidak terpenuhi dengan emas 1 pundi dari
sang raja. Karena tidak mau malu dihadapan rakyatnya, sang raja menyuruh bendahara mengambil kembali pundi pundi emas kerajaan guna memenuhi mangkuk pengemis itu. Namun kejadian tetap sama, mangkuk itu tetap tidak penuh dengan emas dari sang raja, hingga semua harta kerajaan baik harta emas, berlin dan permata kerajaan habis namun mangkuk itu tetap tidak terisi juga. Seakan-akan mangkuk itu tidak berdasar. Setelah harta kerajaan habis, sang raja jatuh bersimpuh di kaki sang pengemis sambil berkata: "Wahai pengemis, terbuat dari apakah mangkuk itu?, seluruh harta kerajaan telah habis untuk mengisi mangkuk ini, tetapi seakan-akan mangkuk ini tidak ada dasarnya. kosong tak berdasar, tanya sang raja.

Sunday, July 13, 2008

KISAH SEORANG RAJA DAN PENGEMIS



Tersebut seorang Raja yang sangat kaya dan berkuasa. Pada suatu hari Sang Raja berjalan-jalan ke pasar untuk melihat keadaan rakyatnya. Dalam perjalanannya sang raja bertemu dengan seorang pengemis. Maka sang raja bertanya kepada sang pengemis.

"Apa yang dapat aku bantu untukmu membuat bahagia, wahai pengemis?, tanya sang raja. pengemis tersenyum dan berkata : "Apakah Raja benar-benar akan memenuhi semua keinginan hamba?"

"Tentu saja", jawab sang raja. "Aku adalah seorang raja yang sangat kaya dan berkuasa, apa yang engkau inginkan, pasti aku akan mengabulkannya".
Pengemis segera mengulurkan mangkok sedekahnya kepada sang raja dan berkata, "Sudikah Raja memenuhi mangkok ini". Sang raja terdiam, ia lalu menyuruh bendahara kerajaan untuk mengambil pundi-pundi emas kerajaan. Dalam hati sang raja ia akan mampu memenuhi mangkuk sang pengemis, apalagi membawa 1 pundi emas yang ukurannya lebih besar dari mangkuk pengemis itu. Lalu sang raja menuangkan 1 pundi emas ke dalam mangkuk pengemis itu, namun yang terjadi mangkuk itu tetap tidak terpenuhi dengan emas 1 pundi dari
sang raja. Karena tidak mau malu dihadapan rakyatnya, sang raja menyuruh bendahara mengambil kembali pundi pundi emas kerajaan guna memenuhi mangkuk pengemis itu. Namun kejadian tetap sama, mangkuk itu tetap tidak penuh dengan emas dari sang raja, hingga semua harta kerajaan baik harta emas, berlin dan permata kerajaan habis namun mangkuk itu tetap tidak terisi juga. Seakan-akan mangkuk itu tidak berdasar. Setelah harta kerajaan habis, sang raja jatuh bersimpuh di kaki sang pengemis sambil berkata: "Wahai pengemis, terbuat dari apakah mangkuk itu?, seluruh harta kerajaan telah habis untuk mengisi mangkuk ini, tetapi seakan-akan mangkuk ini tidak ada dasarnya. kosong tak berdasar, tanya sang raja.

pengemis menjawab: "Mangkuk ini dasarnya adalah keinginan manusia yang tiada batas,berisikan segala macam keinginan berupa kebahagian, kesenangan dll.Jika engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan, maka tidak ada lagi kesenangan atau kebahagian yang adapadanya, yang ada hanya kebosanan yang tergantikan dengan keinginan-keinginan yang baru demikian

selanjutnya. Semua kesenangan hanya dalam proses mencapai keinginan tersebut.dan ada kesombongan dalam hatimu ketika memberi sedekah kepadaku.
Sang raja berkata: "Pasti ada cara untuk menutup dasar mangkuk itu". "Tentu ada," yaitu dengan cara

bersyukur dengan apa yang di berikan Allah kepadamu, niscaya Ia akan menambahkan nikmat kepadamu." jawab pengemis.
Lalu pengemis itu berlalu dan hilang dari pandangan sang raja.


Kesimpulan:

  • Bahwa keinginan manusia itu tidak berbatas, manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya. Manusia cenderung inginingin lebih dan lebih lagi dari yang sudah ada. Seperti jika ia punya emas sebesar 1 gunung, niscaya dalam hatinya akan merasasenang jika mempunyai emas sebanyak 2 atau 3 gunung lagi.Kesenangan atau kebahagian dalam setiap keinginan manusia hanya sebataspada proses mendapatkannya saja, ketika keinginan itu terpenuhi maka tidak ada kesenangan lagi pada keinginan tersebut tergantikan dengan kesenangan proses keinginan yang lain.
  • Rasa mempunyai banyak harta, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, kepandaian dll hanya menimbulkan kesombongan.
  • Yang pada dasarnya semua itu tidak ada pada diri kita, hanya sebatas anugerah dan amanah saja dari Allah SWT.
  • Kita wajib bersyukur dengan apa saja yang telah diberikan Allah kepada kita, karena barangsiapa yang bersyukur dengan nikmatku, maka akan aku tambah.
Wassalam

Monday, July 7, 2008

MENGOLAH RASA

Oleh : CM.HIZBOEL WATHONY IBRAHIM


Jangan merasa bisa, jangan merasa lebih, jangan merasa ada,
Jangan merasa apapun


Tersebutlah seorang Mursyid yang mengelana bersama beberapa salikin. Mursyid sengaja membawa mereka berjalan-jalan untuk memberi pelajaran secara langsung. Ketika tiba di sebuah tempat bertemulah rombongan mereka dengan seseorang yang kemudian menasehati Mursyid, agar tidak begini begitu, dan seterusnya. Bahkan tak lupa orang tersebut memberi lembaran-lembaran kertas berisi doa-doa untuk diamalkan oleh Mursyid.

Melihat kejadian itu para salikin menjadi marah. Dalam pandangan mereka, orang yang menasehati Mursid mereka adalah orang yang kurang ajar. Orang itu harus diberi tahu bahwa dia hadapi adalah seorang Mursid yang keilmuannya jauh melebihi orang tersebut. Beberapa salikin kemudian hendak menegur orang tadi sebelum kemudian dicegah oleh Mursid mereka. “Kalian tidak lulus ujian. Karena tersinggung dan marah berarti kalian masih merasa lebih.” Demikian kata Mursid. Para salikin pun diam membisu.


RAGAM RASA
Merasa lebih dan merasa bias adalah salah satu penyakit hati. Beberapa ulamanya menyebutnya sebagai Kibir yang termasuk cabang dari sifat sombong. Sifat itu bersemayam di hati setiap manusia, kecuali manusia ikhlas. Ia bisa bersemayam pada hati seorang suami yang mampu membiayai istri dan anak-anaknya. Pada seorang istri yang merasa paling dicintai oleh suaminya. Para murid yang mengaku dirinya lebih pintar dari gurunya. Guru yang merasa bisa memberi ilmu kepada muridnya. Pemimpin yang merasa bisa memimpin. Pada rakyat yang merasa bisa menentang pemimpinnya. Pada orang kaya yang merasa menjadi penderma harta. Pada orang miskin yang merasa dikasihani orang kaya. Pada siapa saja yang merasa bisa, dan merasa lebih.

Seorang yang memiliki sifat sombong niscaya mudah marah dan mudah tersinggung. Dua perangai itu merupakan satu kesatuan dengan kesombongan yang asal muasalnya bersumber dari api. Karena sifat api selalu dan pasti menyala ke atas, maka demikian pula dengan orang-orang yang sombong. Yang selalu dan pasti merasa di atas yang lain. Al Quran menyebutnya dengan Istilah khuthamah (api yang menyala-nyala. Yang naik hingga ke hati…” Al Humazah: 4-7).

Jika api sudah bersemayam di hati manusia dipastikan tak akan ada lagi kesejukan. Meski menyelam ke dasar telaga yang paling dingin pun, hati mereka tetap akan terasa panas, Perasaan lebih dari orang lain, adalah api yang membakar hati. Ibarat sebuah rumah yang terbakar, maka seisi rumah akan pengap dan gelap karena asap yang ditimbulkan oleh api. Demikian pula manusia yang hatinya hangus dan kesadarannya lenyap karena terhalang oleh gelapnya kemarahan.

Orang yang sombong dengan ilmunya akan marah jika ada yang mengatakan atau menganggapnya bodoh. Orang yang sombong dengan harta dan kedudukannya akan tersinggung ketika dilecehan. Orang yang sombong dengan kebenarannya tidak akan menerima ketika ada yang mengingatkan atau menyalahkannya. Intinya, orang sombong selalu merasa di atas orang lain.

MAAF DAN ISTIQOMAH
Dikisahkan pada suatu hari seorang salikin melakukan khalwat disebuah tempat sepi agar sampai kepada Allah. Berminggu-minggu dia menyendiri. Dan suatu hari salikin itu berkata dalam hati bahwa besok atau setelah khalwat itu hatinya akan terbuka. Seorang wali Allah mendengar gemeretak rasa si salikin dan kemudian menegurnya. “Bagaimana mungkin orang yang berkata besok hatinya akan terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai badan, kenapa kamu beribadah bukan karena Allah tapi hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali.

Perasaan yang dialami oleh saikin tadi adalah sebuah perasaab yang ditimbulkan oleh seseorang yang hatinya menyimpan rasa (ada). Padahal ketika seseorang merasa ada, pada saat itulah dia menisbahkan Allah. Manusia yang merasa menjadi wali, menjadi penguasa, menjadi penderma dan sebagainya. Pada hakikatnya telah meniadakan Dzat yang ada – yaitu Allah SWT.

Mereka yang mempunyai dua sifat itu (merasa ada dan merasa lebih) tidak akan pernah sampai kepada Allah, meskipun sudah mengabaikan dunia. Dua sifat itu menyesatkan dan menjauhkan kita dari kebaikan yang sangat besar. (Ma’rifat).


Tidak ada yang menyebabkan malaikat Azazil terlepas dari rahmat Allah sehinggadijuluki Iblis melainkan karena sifat sombong. Tak ada yang mengharamkan suku Quraisy dari keberkahan dan rahasia Nabi Muhammad SAW melainkan karena merasa lebih baik. Tak ada yang menyesatkan Fir’aun dari jalan petunjuk dan dikeluarkan dari rahmat Allah kecuali karena merasa ada dengan kekuasaan dan kekayaan.

Obat mujarab untuk mengikis sifat sombong ada dua. Pertama, istiqomah. Yaitu selalu menetapkan diri dan hati dalam memandang Allah. Tik ada sesuatu pun yang tampak, melainkan hanya Allah. Pada kisah Mursid di awal tulisan ini, seharusnya yang dilakukan oleh para salikin adalah bukan marah ataupun balas menasehati. Namun justru memandang dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Demikian pula pada kisah kedua, tentang salikin yang merasa akan sampai kepada Allah, seharusnya pun mengembalikan semuanya hanya kepada Allah. Kemudian obat yang kedua adalah dengan memberi maaf. Hanya dengan memberi maaf semua kemarahan akan menjadi padam. Nabi mengatakan bahwa, “jika engkau marah segeralah mengambil wudu.” Dan wudu dalam hal ini bukanlah semata-mata wudu lahiriah, yang mengandung pengertian menyiramkan air pada wajah, tangan, kepala hingga kaki. Melainkan wudu hakikat, yakni membersihkan hati dan jiwa dengan cara memberi maaf. Percuma menyiramkan air ke seluruh badan, jika setelah itu hati tetap membara. Dan hakikat wudu sebagaimana dimaksud Nabi adalah maul barid atau air yang menyejukkan. Sementara tidak ada yang air yang lebih menyejukkan kecuali memberi maaf.

Insya Allah dengan cara istiqomah dan kesedian memberi maaf, sifat merasa ada dan merasa bisa, akan sirna dari dalam hati. Dan pada saat itu kita akan dapat menyaksikan keindahan wajah-Nya, wajah Allah SWT.

“Dikutip dari Majalah Kasyaf edisi 13 Majalah Kajian Tauhid & Hakikat (edisi September – Oktober 2007)
Semua tulisan dari artikel majalah ditulis dengan apa adanya tanpa ada yang dikurangi atau ditambahkan

Artikel ditulis Oleh Guru Kami
CM.HIZBOEL WATHONY IBRAHIM (PONPES AKMALIYAH)
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut Klik. www.akmaliah.com

Monday, June 23, 2008

Lukman Bijak dan Keledai Jinak

Lukman bukanlah Nabi; dia hanya manusia biasa. Namun Al Quran mengabadikan namanya sebagai sosok manusia yang saleh. Lukman dikenal sebagai seorang ayah yang menasehati putranya untuk tidak menyekutukan Allah. Betapa indah dan halus cara Al Quran bertutur. Seperti tentang Lukman, sesungguhnya Allah tengah memberikan isyarat bahwa pelajaran aqidah (tauhid) harus ditanamkan sejak dini. Dan ini telah dicontohkan oleh kisah Lukman. Lewat tuturnya yang indah, sebagaimana disebutkan Al Quran, Lukman berkata: "Hai anakku sayang, jangan engkau menyekutukan (syirik) Allah. Karena syirik adalah sungguh dosa yang sangat besar.

Lukman juga menasehati anaknya agar tetap bersikap sederhana, tidak sombong. Bahkan kesombongan, menurut Lukman dimulai dari cara atau gaya bicara dan cara berjalan. Ini mirip dengan tradisi lokal seperti tepo seliro dan unggah-unggah. Apa yang diterapka Lukman kepada anaknya adalah pembentukan nilai murni dalam diri individu. Karena hanya dengan berpegang teguh pada agama, sesorang dapat merasakan kebahagian dalam menjalani kehidupan dunia.

Terkait dengan Lukman, sesungguhnya masih banyak ragam kisah yang melatarinya. Dia dikenal sebagai lelaki yang bijak, santun, dan penderma. Bahkan, karena gemar melakukan kebijakan Lukman mendapat gelar sebagai al_Hakim, yang artinya Si bijak bijaksana. Tentang bagaimana Al Quran memberi keterangan bahwa Lukman mendapat anugerah dari Allah denga gelar ahli hikmah ini disebut dalamkan dalam surat 31 Al Quran. Ini persis dengan apa yang disebut filosofi, yang artinya love to wisdom, atau cinta kebikasanaan. Artinya, buka mustahil Lukaman adalah seorang filsuf. Wallahu A'lam.

Sesungguhnya kisah Luman selain dirinya memberikan wasiat kepada anaknya, dia dikisahkan sangat memperhatikan masyarakat dan lingkungannya. dalam ayat itu disinggung betapa Lukman yang jelas-jelas sibuk dengan kegiatan luarnya masih menyempatkan diri untuk menasehati anaknya dengan penuh kasih sayang dan kemesraan.

Nasihat utamanya yang sangat terkenal adalah nasehat untuk tidak menyekutukan Allah dan terutama tentang salat. Juga bagaimana tanggung jawab seorang mukmin untuk selalu berdakwah sebagai tanggung jawab pribadi terhadap umat, masyarakat dan lingkungannya. Keistimewaan Lukman adalah dalam mendidik serta membimbin putranya. Ia selalu menjadi model bagi pola hubungan antara anak dengan ayahnya.

Siapa Lukman
Sebenarnya kisah Lukman tidak begitu banyak terdokumentasi selain dari Al Quran. Ada yang beranggapan bahwa dia termasuk dalam golongan Nabi; tapi ada juga yang berpendapat bahwa dia seorang wali. Sebagai ulama, menganggap Lukman terkenal karena kisah wasiat kepada anaknya yang diabadikan Al Quran. Disana ia disebut sebagai seorang lelaki saleh yang beriman kepada Allah. Menurut riwayat, Lukman al-Hakim ialah seorang lelaki yang berkulit hitam.
Keterangan dari Imam Said bin Musayyibi, Lukman adalah lelaki salih yang berasal dari negeri Sudan, Afrika. Suatu ketika, sesorang lelaki berkulit hitam menemui Imam Said dan beliau berkata kepada lelaki itu : "Janganlah kamu bersedih hati karena kulitmu yang hitam. Sebenarnya antara manusia yang terbaik ( disisi Allah ) adalah mereka yang berkulit hitam; mereka adalah Bilal, Mahjak dan Lukman al_hakim."

Sementara, bila mengikuti Ibn Jarir At-Tabari, berdasarkan riwayat Khalid ar-Raj'ii, Lukman adalah seorang hamba dari Habsyah yang bekerja sebagai seorang tukang kayu. "Pada suatu hari, sang majikan menyuruh Lukman untuk menyembelih seekor kambing dan membawanya dua bagian daging yang terbaik. Perintah itu dilaksanakan Lukman dan dibawahlah kepada tuannya dua bagian yang terbaik; hati dan lidah. Pada keesokan harinya, tuannya kembali menyuruh Lukman menyembelih seekor kambing lain dan membawakannya dua bagian daging yang terburuk. Perintah itu juga dilaksanakan oleh Lukman dan dibawakan kepadanya dua bagian yang daging yang buruk; yaitu hati dan lidah.

sang majikan bingung lalu bertanya kepada Lukman. Kemudian Lukman menjawab, "Sesungguhnya, bagi orang yang mulia, kedua bagian itulah harta yang terbaik baginya; dan mereka yang jahat, kedua bagian itu pula yang menjadi harta terkeji di dalam jasadnya." Demikian kisah kebijaksanaan Lukman.

Dalam riwayat Ibn Jarir dan Amru bin Qais, seorang lelaki pernah bertanya kepada Lukman tentang makna hikmah. Lalu Lukman menjawab, "Itu adalah kehendak Allah. Bagaimana pun, aku senantiasa berbicara dalam kebenaran dan aku menjnauhi setiap hal yang tidak bermanfaat bagiku." Kini marilah kita simak bersama sepenggal kisah tentang Lukman.

LUKMAN HAKIM DAN KELEDAI
Pada suatu hari, Lukman Hakim memerintahkan anaknya yang dicintainya untuk mengambil seekor keledai. Sang memenuhi dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai. Maka perjalanan pun dimulai. Keduanya berjalan melintasi perbukitan dan tanah-tanah tandus. Hingga suatu ketika mereka berdua melintasi kerumunan orang-orang banyak. Orang-orang yang menaksikan Lukman dan anaknya yang sedang melakukan perjalanan seperti merasa suatu hal yang aneh. Mereka saling mencibir dan berbisik-bisik.

Tiba-tiba seorang berteriak, lalu diikuti oleh kerumunan yang lain, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring diatas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia. "lalu seorang berteria, "Hai, Lelaki tua tidak tahu diri! Kau biarkan dirimu naik diatas keledai sementara kau biarkan anakmu lelah lagi kepanasan. Lukman menghentikan keledainya. Lalu Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku? Lalu dengan sopan dan berbudi, si anak menyampaikan apa yang dikatakan oleh kerumunan orang-orang tersebut.

Kemudian Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, “Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, “Betapa kejam kedua orang itu, merka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah.” Lukman bertanya kepada orang-orang, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Akhirnya Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntutnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, “Subhanallah…… seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? Sementara kedua orang itu menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dar mereka menaikinya.” Lukman bertanya kepada anaknya,” “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak kembali menyampaikan tanggapan mereka.

Akhirnya Lukman pulang kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Lukman Hakim menasehati anaknya tentang sikap manusia, katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang-orang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu.”

Kemudian Lukman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (musah tertipu dan diperdayai), dan hilang kemulian hatinya (kepribadian), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu, ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.

Kemudian Lukman menesehati anaknya: “Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu.”


Sumber: Diataptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas.



Kisah ini diambil dari Artikel Majalah Kasyaf (Majalah Kajian Tauhid & Hakikat) edisi 13. Dengan Penulisnya Abdullah Imam.