rss

Monday, July 7, 2008

MENGOLAH RASA

Oleh : CM.HIZBOEL WATHONY IBRAHIM


Jangan merasa bisa, jangan merasa lebih, jangan merasa ada,
Jangan merasa apapun


Tersebutlah seorang Mursyid yang mengelana bersama beberapa salikin. Mursyid sengaja membawa mereka berjalan-jalan untuk memberi pelajaran secara langsung. Ketika tiba di sebuah tempat bertemulah rombongan mereka dengan seseorang yang kemudian menasehati Mursyid, agar tidak begini begitu, dan seterusnya. Bahkan tak lupa orang tersebut memberi lembaran-lembaran kertas berisi doa-doa untuk diamalkan oleh Mursyid.

Melihat kejadian itu para salikin menjadi marah. Dalam pandangan mereka, orang yang menasehati Mursid mereka adalah orang yang kurang ajar. Orang itu harus diberi tahu bahwa dia hadapi adalah seorang Mursid yang keilmuannya jauh melebihi orang tersebut. Beberapa salikin kemudian hendak menegur orang tadi sebelum kemudian dicegah oleh Mursid mereka. “Kalian tidak lulus ujian. Karena tersinggung dan marah berarti kalian masih merasa lebih.” Demikian kata Mursid. Para salikin pun diam membisu.


RAGAM RASA
Merasa lebih dan merasa bias adalah salah satu penyakit hati. Beberapa ulamanya menyebutnya sebagai Kibir yang termasuk cabang dari sifat sombong. Sifat itu bersemayam di hati setiap manusia, kecuali manusia ikhlas. Ia bisa bersemayam pada hati seorang suami yang mampu membiayai istri dan anak-anaknya. Pada seorang istri yang merasa paling dicintai oleh suaminya. Para murid yang mengaku dirinya lebih pintar dari gurunya. Guru yang merasa bisa memberi ilmu kepada muridnya. Pemimpin yang merasa bisa memimpin. Pada rakyat yang merasa bisa menentang pemimpinnya. Pada orang kaya yang merasa menjadi penderma harta. Pada orang miskin yang merasa dikasihani orang kaya. Pada siapa saja yang merasa bisa, dan merasa lebih.

Seorang yang memiliki sifat sombong niscaya mudah marah dan mudah tersinggung. Dua perangai itu merupakan satu kesatuan dengan kesombongan yang asal muasalnya bersumber dari api. Karena sifat api selalu dan pasti menyala ke atas, maka demikian pula dengan orang-orang yang sombong. Yang selalu dan pasti merasa di atas yang lain. Al Quran menyebutnya dengan Istilah khuthamah (api yang menyala-nyala. Yang naik hingga ke hati…” Al Humazah: 4-7).

Jika api sudah bersemayam di hati manusia dipastikan tak akan ada lagi kesejukan. Meski menyelam ke dasar telaga yang paling dingin pun, hati mereka tetap akan terasa panas, Perasaan lebih dari orang lain, adalah api yang membakar hati. Ibarat sebuah rumah yang terbakar, maka seisi rumah akan pengap dan gelap karena asap yang ditimbulkan oleh api. Demikian pula manusia yang hatinya hangus dan kesadarannya lenyap karena terhalang oleh gelapnya kemarahan.

Orang yang sombong dengan ilmunya akan marah jika ada yang mengatakan atau menganggapnya bodoh. Orang yang sombong dengan harta dan kedudukannya akan tersinggung ketika dilecehan. Orang yang sombong dengan kebenarannya tidak akan menerima ketika ada yang mengingatkan atau menyalahkannya. Intinya, orang sombong selalu merasa di atas orang lain.

MAAF DAN ISTIQOMAH
Dikisahkan pada suatu hari seorang salikin melakukan khalwat disebuah tempat sepi agar sampai kepada Allah. Berminggu-minggu dia menyendiri. Dan suatu hari salikin itu berkata dalam hati bahwa besok atau setelah khalwat itu hatinya akan terbuka. Seorang wali Allah mendengar gemeretak rasa si salikin dan kemudian menegurnya. “Bagaimana mungkin orang yang berkata besok hatinya akan terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai badan, kenapa kamu beribadah bukan karena Allah tapi hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali.

Perasaan yang dialami oleh saikin tadi adalah sebuah perasaab yang ditimbulkan oleh seseorang yang hatinya menyimpan rasa (ada). Padahal ketika seseorang merasa ada, pada saat itulah dia menisbahkan Allah. Manusia yang merasa menjadi wali, menjadi penguasa, menjadi penderma dan sebagainya. Pada hakikatnya telah meniadakan Dzat yang ada – yaitu Allah SWT.

Mereka yang mempunyai dua sifat itu (merasa ada dan merasa lebih) tidak akan pernah sampai kepada Allah, meskipun sudah mengabaikan dunia. Dua sifat itu menyesatkan dan menjauhkan kita dari kebaikan yang sangat besar. (Ma’rifat).


Tidak ada yang menyebabkan malaikat Azazil terlepas dari rahmat Allah sehinggadijuluki Iblis melainkan karena sifat sombong. Tak ada yang mengharamkan suku Quraisy dari keberkahan dan rahasia Nabi Muhammad SAW melainkan karena merasa lebih baik. Tak ada yang menyesatkan Fir’aun dari jalan petunjuk dan dikeluarkan dari rahmat Allah kecuali karena merasa ada dengan kekuasaan dan kekayaan.

Obat mujarab untuk mengikis sifat sombong ada dua. Pertama, istiqomah. Yaitu selalu menetapkan diri dan hati dalam memandang Allah. Tik ada sesuatu pun yang tampak, melainkan hanya Allah. Pada kisah Mursid di awal tulisan ini, seharusnya yang dilakukan oleh para salikin adalah bukan marah ataupun balas menasehati. Namun justru memandang dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Demikian pula pada kisah kedua, tentang salikin yang merasa akan sampai kepada Allah, seharusnya pun mengembalikan semuanya hanya kepada Allah. Kemudian obat yang kedua adalah dengan memberi maaf. Hanya dengan memberi maaf semua kemarahan akan menjadi padam. Nabi mengatakan bahwa, “jika engkau marah segeralah mengambil wudu.” Dan wudu dalam hal ini bukanlah semata-mata wudu lahiriah, yang mengandung pengertian menyiramkan air pada wajah, tangan, kepala hingga kaki. Melainkan wudu hakikat, yakni membersihkan hati dan jiwa dengan cara memberi maaf. Percuma menyiramkan air ke seluruh badan, jika setelah itu hati tetap membara. Dan hakikat wudu sebagaimana dimaksud Nabi adalah maul barid atau air yang menyejukkan. Sementara tidak ada yang air yang lebih menyejukkan kecuali memberi maaf.

Insya Allah dengan cara istiqomah dan kesedian memberi maaf, sifat merasa ada dan merasa bisa, akan sirna dari dalam hati. Dan pada saat itu kita akan dapat menyaksikan keindahan wajah-Nya, wajah Allah SWT.

“Dikutip dari Majalah Kasyaf edisi 13 Majalah Kajian Tauhid & Hakikat (edisi September – Oktober 2007)
Semua tulisan dari artikel majalah ditulis dengan apa adanya tanpa ada yang dikurangi atau ditambahkan

Artikel ditulis Oleh Guru Kami
CM.HIZBOEL WATHONY IBRAHIM (PONPES AKMALIYAH)
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut Klik. www.akmaliah.com

0 comments: