Lukman bukanlah Nabi; dia hanya manusia biasa. Namun Al Quran mengabadikan namanya sebagai sosok manusia yang saleh. Lukman dikenal sebagai seorang ayah yang menasehati putranya untuk tidak menyekutukan Allah. Betapa indah dan halus cara Al Quran bertutur. Seperti tentang Lukman, sesungguhnya Allah tengah memberikan isyarat bahwa pelajaran aqidah (tauhid) harus ditanamkan sejak dini. Dan ini telah dicontohkan oleh kisah Lukman. Lewat tuturnya yang indah, sebagaimana disebutkan Al Quran, Lukman berkata: "Hai anakku sayang, jangan engkau menyekutukan (syirik) Allah. Karena syirik adalah sungguh dosa yang sangat besar.
Lukman juga menasehati anaknya agar tetap bersikap sederhana, tidak sombong. Bahkan kesombongan, menurut Lukman dimulai dari cara atau gaya bicara dan cara berjalan. Ini mirip dengan tradisi lokal seperti tepo seliro dan unggah-unggah. Apa yang diterapka Lukman kepada anaknya adalah pembentukan nilai murni dalam diri individu. Karena hanya dengan berpegang teguh pada agama, sesorang dapat merasakan kebahagian dalam menjalani kehidupan dunia.
Terkait dengan Lukman, sesungguhnya masih banyak ragam kisah yang melatarinya. Dia dikenal sebagai lelaki yang bijak, santun, dan penderma. Bahkan, karena gemar melakukan kebijakan Lukman mendapat gelar sebagai al_Hakim, yang artinya Si bijak bijaksana. Tentang bagaimana Al Quran memberi keterangan bahwa Lukman mendapat anugerah dari Allah denga gelar ahli hikmah ini disebut dalamkan dalam surat 31 Al Quran. Ini persis dengan apa yang disebut filosofi, yang artinya love to wisdom, atau cinta kebikasanaan. Artinya, buka mustahil Lukaman adalah seorang filsuf. Wallahu A'lam.
Sesungguhnya kisah Luman selain dirinya memberikan wasiat kepada anaknya, dia dikisahkan sangat memperhatikan masyarakat dan lingkungannya. dalam ayat itu disinggung betapa Lukman yang jelas-jelas sibuk dengan kegiatan luarnya masih menyempatkan diri untuk menasehati anaknya dengan penuh kasih sayang dan kemesraan.
Nasihat utamanya yang sangat terkenal adalah nasehat untuk tidak menyekutukan Allah dan terutama tentang salat. Juga bagaimana tanggung jawab seorang mukmin untuk selalu berdakwah sebagai tanggung jawab pribadi terhadap umat, masyarakat dan lingkungannya. Keistimewaan Lukman adalah dalam mendidik serta membimbin putranya. Ia selalu menjadi model bagi pola hubungan antara anak dengan ayahnya.
Siapa Lukman
Sebenarnya kisah Lukman tidak begitu banyak terdokumentasi selain dari Al Quran. Ada yang beranggapan bahwa dia termasuk dalam golongan Nabi; tapi ada juga yang berpendapat bahwa dia seorang wali. Sebagai ulama, menganggap Lukman terkenal karena kisah wasiat kepada anaknya yang diabadikan Al Quran. Disana ia disebut sebagai seorang lelaki saleh yang beriman kepada Allah. Menurut riwayat, Lukman al-Hakim ialah seorang lelaki yang berkulit hitam.
Keterangan dari Imam Said bin Musayyibi, Lukman adalah lelaki salih yang berasal dari negeri Sudan, Afrika. Suatu ketika, sesorang lelaki berkulit hitam menemui Imam Said dan beliau berkata kepada lelaki itu : "Janganlah kamu bersedih hati karena kulitmu yang hitam. Sebenarnya antara manusia yang terbaik ( disisi Allah ) adalah mereka yang berkulit hitam; mereka adalah Bilal, Mahjak dan Lukman al_hakim."
Sementara, bila mengikuti Ibn Jarir At-Tabari, berdasarkan riwayat Khalid ar-Raj'ii, Lukman adalah seorang hamba dari Habsyah yang bekerja sebagai seorang tukang kayu. "Pada suatu hari, sang majikan menyuruh Lukman untuk menyembelih seekor kambing dan membawanya dua bagian daging yang terbaik. Perintah itu dilaksanakan Lukman dan dibawahlah kepada tuannya dua bagian yang terbaik; hati dan lidah. Pada keesokan harinya, tuannya kembali menyuruh Lukman menyembelih seekor kambing lain dan membawakannya dua bagian daging yang terburuk. Perintah itu juga dilaksanakan oleh Lukman dan dibawakan kepadanya dua bagian yang daging yang buruk; yaitu hati dan lidah.
sang majikan bingung lalu bertanya kepada Lukman. Kemudian Lukman menjawab, "Sesungguhnya, bagi orang yang mulia, kedua bagian itulah harta yang terbaik baginya; dan mereka yang jahat, kedua bagian itu pula yang menjadi harta terkeji di dalam jasadnya." Demikian kisah kebijaksanaan Lukman.
Dalam riwayat Ibn Jarir dan Amru bin Qais, seorang lelaki pernah bertanya kepada Lukman tentang makna hikmah. Lalu Lukman menjawab, "Itu adalah kehendak Allah. Bagaimana pun, aku senantiasa berbicara dalam kebenaran dan aku menjnauhi setiap hal yang tidak bermanfaat bagiku." Kini marilah kita simak bersama sepenggal kisah tentang Lukman.
LUKMAN HAKIM DAN KELEDAI
Pada suatu hari, Lukman Hakim memerintahkan anaknya yang dicintainya untuk mengambil seekor keledai. Sang memenuhi dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai. Maka perjalanan pun dimulai. Keduanya berjalan melintasi perbukitan dan tanah-tanah tandus. Hingga suatu ketika mereka berdua melintasi kerumunan orang-orang banyak. Orang-orang yang menaksikan Lukman dan anaknya yang sedang melakukan perjalanan seperti merasa suatu hal yang aneh. Mereka saling mencibir dan berbisik-bisik.
Tiba-tiba seorang berteriak, lalu diikuti oleh kerumunan yang lain, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring diatas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia. "lalu seorang berteria, "Hai, Lelaki tua tidak tahu diri! Kau biarkan dirimu naik diatas keledai sementara kau biarkan anakmu lelah lagi kepanasan. Lukman menghentikan keledainya. Lalu Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku? Lalu dengan sopan dan berbudi, si anak menyampaikan apa yang dikatakan oleh kerumunan orang-orang tersebut.
Kemudian Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, “Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, “Betapa kejam kedua orang itu, merka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah.” Lukman bertanya kepada orang-orang, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntutnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, “Subhanallah…… seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? Sementara kedua orang itu menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dar mereka menaikinya.” Lukman bertanya kepada anaknya,” “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak kembali menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya Lukman pulang kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Lukman Hakim menasehati anaknya tentang sikap manusia, katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang-orang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu.”
Kemudian Lukman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (musah tertipu dan diperdayai), dan hilang kemulian hatinya (kepribadian), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu, ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.
Kemudian Lukman menesehati anaknya: “Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu.”
Sumber: Diataptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas.
Kisah ini diambil dari Artikel Majalah Kasyaf (Majalah Kajian Tauhid & Hakikat) edisi 13. Dengan Penulisnya Abdullah Imam.
Lukman juga menasehati anaknya agar tetap bersikap sederhana, tidak sombong. Bahkan kesombongan, menurut Lukman dimulai dari cara atau gaya bicara dan cara berjalan. Ini mirip dengan tradisi lokal seperti tepo seliro dan unggah-unggah. Apa yang diterapka Lukman kepada anaknya adalah pembentukan nilai murni dalam diri individu. Karena hanya dengan berpegang teguh pada agama, sesorang dapat merasakan kebahagian dalam menjalani kehidupan dunia.
Terkait dengan Lukman, sesungguhnya masih banyak ragam kisah yang melatarinya. Dia dikenal sebagai lelaki yang bijak, santun, dan penderma. Bahkan, karena gemar melakukan kebijakan Lukman mendapat gelar sebagai al_Hakim, yang artinya Si bijak bijaksana. Tentang bagaimana Al Quran memberi keterangan bahwa Lukman mendapat anugerah dari Allah denga gelar ahli hikmah ini disebut dalamkan dalam surat 31 Al Quran. Ini persis dengan apa yang disebut filosofi, yang artinya love to wisdom, atau cinta kebikasanaan. Artinya, buka mustahil Lukaman adalah seorang filsuf. Wallahu A'lam.
Sesungguhnya kisah Luman selain dirinya memberikan wasiat kepada anaknya, dia dikisahkan sangat memperhatikan masyarakat dan lingkungannya. dalam ayat itu disinggung betapa Lukman yang jelas-jelas sibuk dengan kegiatan luarnya masih menyempatkan diri untuk menasehati anaknya dengan penuh kasih sayang dan kemesraan.
Nasihat utamanya yang sangat terkenal adalah nasehat untuk tidak menyekutukan Allah dan terutama tentang salat. Juga bagaimana tanggung jawab seorang mukmin untuk selalu berdakwah sebagai tanggung jawab pribadi terhadap umat, masyarakat dan lingkungannya. Keistimewaan Lukman adalah dalam mendidik serta membimbin putranya. Ia selalu menjadi model bagi pola hubungan antara anak dengan ayahnya.
Siapa Lukman
Sebenarnya kisah Lukman tidak begitu banyak terdokumentasi selain dari Al Quran. Ada yang beranggapan bahwa dia termasuk dalam golongan Nabi; tapi ada juga yang berpendapat bahwa dia seorang wali. Sebagai ulama, menganggap Lukman terkenal karena kisah wasiat kepada anaknya yang diabadikan Al Quran. Disana ia disebut sebagai seorang lelaki saleh yang beriman kepada Allah. Menurut riwayat, Lukman al-Hakim ialah seorang lelaki yang berkulit hitam.
Keterangan dari Imam Said bin Musayyibi, Lukman adalah lelaki salih yang berasal dari negeri Sudan, Afrika. Suatu ketika, sesorang lelaki berkulit hitam menemui Imam Said dan beliau berkata kepada lelaki itu : "Janganlah kamu bersedih hati karena kulitmu yang hitam. Sebenarnya antara manusia yang terbaik ( disisi Allah ) adalah mereka yang berkulit hitam; mereka adalah Bilal, Mahjak dan Lukman al_hakim."
Sementara, bila mengikuti Ibn Jarir At-Tabari, berdasarkan riwayat Khalid ar-Raj'ii, Lukman adalah seorang hamba dari Habsyah yang bekerja sebagai seorang tukang kayu. "Pada suatu hari, sang majikan menyuruh Lukman untuk menyembelih seekor kambing dan membawanya dua bagian daging yang terbaik. Perintah itu dilaksanakan Lukman dan dibawahlah kepada tuannya dua bagian yang terbaik; hati dan lidah. Pada keesokan harinya, tuannya kembali menyuruh Lukman menyembelih seekor kambing lain dan membawakannya dua bagian daging yang terburuk. Perintah itu juga dilaksanakan oleh Lukman dan dibawakan kepadanya dua bagian yang daging yang buruk; yaitu hati dan lidah.
sang majikan bingung lalu bertanya kepada Lukman. Kemudian Lukman menjawab, "Sesungguhnya, bagi orang yang mulia, kedua bagian itulah harta yang terbaik baginya; dan mereka yang jahat, kedua bagian itu pula yang menjadi harta terkeji di dalam jasadnya." Demikian kisah kebijaksanaan Lukman.
Dalam riwayat Ibn Jarir dan Amru bin Qais, seorang lelaki pernah bertanya kepada Lukman tentang makna hikmah. Lalu Lukman menjawab, "Itu adalah kehendak Allah. Bagaimana pun, aku senantiasa berbicara dalam kebenaran dan aku menjnauhi setiap hal yang tidak bermanfaat bagiku." Kini marilah kita simak bersama sepenggal kisah tentang Lukman.
LUKMAN HAKIM DAN KELEDAI
Pada suatu hari, Lukman Hakim memerintahkan anaknya yang dicintainya untuk mengambil seekor keledai. Sang memenuhi dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai. Maka perjalanan pun dimulai. Keduanya berjalan melintasi perbukitan dan tanah-tanah tandus. Hingga suatu ketika mereka berdua melintasi kerumunan orang-orang banyak. Orang-orang yang menaksikan Lukman dan anaknya yang sedang melakukan perjalanan seperti merasa suatu hal yang aneh. Mereka saling mencibir dan berbisik-bisik.
Tiba-tiba seorang berteriak, lalu diikuti oleh kerumunan yang lain, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring diatas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia. "lalu seorang berteria, "Hai, Lelaki tua tidak tahu diri! Kau biarkan dirimu naik diatas keledai sementara kau biarkan anakmu lelah lagi kepanasan. Lukman menghentikan keledainya. Lalu Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku? Lalu dengan sopan dan berbudi, si anak menyampaikan apa yang dikatakan oleh kerumunan orang-orang tersebut.
Kemudian Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, “Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, “Betapa kejam kedua orang itu, merka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah.” Lukman bertanya kepada orang-orang, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntutnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, “Subhanallah…… seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? Sementara kedua orang itu menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dar mereka menaikinya.” Lukman bertanya kepada anaknya,” “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak kembali menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya Lukman pulang kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Lukman Hakim menasehati anaknya tentang sikap manusia, katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang-orang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu.”
Kemudian Lukman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (musah tertipu dan diperdayai), dan hilang kemulian hatinya (kepribadian), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu, ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.
Kemudian Lukman menesehati anaknya: “Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu.”
Sumber: Diataptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas.
Kisah ini diambil dari Artikel Majalah Kasyaf (Majalah Kajian Tauhid & Hakikat) edisi 13. Dengan Penulisnya Abdullah Imam.
1 comments:
kisah luqman bersama anaknya diatas keledai itu dari hadits atau apa ya? diriwayatkan oleh siapa di kitab apa halaman berapa? jazakallah bantuannya untuk menyelesaikan tulisan saya
Post a Comment